dunia terus berubah dan satu satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri..,
chicken litle
Selasa, 10 Januari 2012
Berawal dari sebuah kegalauan ( tercipta sebuah sejarah yang tak berulang)
Segelintir kisah yang ingin ku bagi karena aku terlalu sayang untuk tidak mengabadikan kisah ini. Sebuah kisah yang aku sebut berawal dari sebuah kegalauan. Yah, malam itu, 3 January 2012 tepatnya, suatu hal yang aku tidak menyangka dan tidak kurencanakan terjadi. Di luar dugaan ku juga kisah ini mengalir seiring matahari yang tak kian datang.
Malam di hari ke tiga di tahun 2012 ini, aku goreskan selembar kisah hidupku bersama keluarga baruku, Rina dan Sidik. Mereka berdua yang merangkai cerita menemaniku menghabiskan malam hingga pagi menjelang. Sungguh tak kuduga, bersama mereka aku dapatkan banyak pelajaran yang bahkan belum sempat aku menelusurinya.
Di tengah hujan yang turun semakin deras, ketika seorang satpam kampus telah mendatangi kami untuk segera pulang. Hal itu tak menyurutkan kegalauan kita malam itu. Di tengah gerimis yang sedikit tidak bersahabat itu, kita melaju ke sebuah tempat dimana kita dapat melanjutkan apa yang kita sendiri tidak tahu. Di sebuah tempat yang aku tahu namanya adalah strawberi kita lanjutkan gurauan malam itu hingga hari berganti.
Tempat singgah pun tak mengijinkan kita untuk berbincang lebih lama lagi. Tengah malam dua motor berwarna putih dan biru melaju menuju sebuah bangunan untuk sekedar mengulur waktu dan beribadah. Yah, masjid Uzlifatul Jannah menjadi saksi sholat isya’ kita pagi itu.
Ingin rasanya berlama-lama di masjid yang sudah tak ada tanda-tanda kehidupan disana karena larutnya malam. Namun masalah gender ternyata menyudutkanku dan seorang temanku, Rina. Kegalauan kembali terjadi ketika kita bermaksud pulang ke tempat masing-masing. Dan akhirnya kita putuskan untuk pulang bila adzan subuh sudah berkumandang. Lalu kita berpikir. Kemana kita akan menghabiskan malam ini?
Sedikit rasa cemas aku lihat dari wajah yang sudah agak mengantuk itu. Rasa sedikit takut dan berbagai rasa lainya mungkin. Ingin tertawa sebenarnya, tapi aku lebih suka ikut merasakan kecemasanya.
Jalanan yang mulai sepi dengan kendaraan yang biasanya memenuhi setiap sudutnya membawa kita menuju sebuah tempat yang tidak asing lagi. Sebuah lampu jalan yang tak begitu terang menyinari tiga orang yang dengan kenekatanya ngobrol ngalor ngidul agak sedikit tidak jelas.
Akhirnya kata demi kata terangkai dari mulut satu persatu dari mereka. Berbagai cerita perjalana hidup, suka, duka, argumentasi, pendapat, kritik, saran, lelucon tak henti-hentinya mewarnai sunyi yang semakin sepi.
Tanpa terasa, telinga ini mendengar suara adzan yang seakan menyuruh kita untuk segera meninggalkan tempat itu. Enggan sebenarnya untuk beranjak meninggalkan sisa-sisa embun yang sedikit demi sedikit mulai pudar. Tapi harus bagaimana lagi, sebuah tugas yang aku pikir akan sedikit melelahkan telah menanti kita esok hari.
Tempat di pojok jalan, di bawah redup sinar lampu jalanan, di trotoar seberang sebuah tanah lapang dengan sidikit orang yang ada disana seakan membawa kita menuju sebuah kisah baru yang perlu dicatat dalam perjalanan hidup ini. Yah, alun-alun kidul menjadi saksi sejarah kita bertiga mengahabiskan pagi itu. Ai, Rina, Sidik.
Senang bisa mengenal kalian. Terima kasih atas cerita-cerita yang telah tertutur dari hati kalian. Terima kasih telah memberi warna yang berbeda dalam gerimis malam itu. Terima kasih atas pelajaran yang kalian berikan walau kalian tak menyadarinya. Tanpa kalian, malam itu tidak akan menjadi sejarah. Dan tanpa kalian aku tidak akan bisa merangkai kata demi kata ini.
Sidik, Rina, terima kasih. Semoga persaudaraan kita kian mantap.
Aku tunggu kisah-kisah berikutnya bersama kalian.
3-4 January 2012
Ai Chi L
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar